
Pinang Merah - Pelaksanaan upacara bendera rutin hari Senin di MTsN 5 Merangin berlangsung dengan khidmat pada pagi ini, 19 Januari 2026. Upacara yang dilaksanakan di lapangan madrasah tersebut diikuti oleh seluruh siswa, guru, dan staf kependidikan. Pada kesempatan kali ini, siswa-siswi Kelas VIII-E bertindak sebagai petugas upacara. Sementara itu, bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Ibu Rischa Cosasi, S.Pd. Dalam amanatnya, Rischa Cosasi mengawali dengan memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada petugas upacara dari kelas VIII-E. Menurutnya, secara keseluruhan penampilan para petugas sudah cukup baik dan teratur. "Terima kasih kepada kelas VIII-E, penampilannya sudah bagus. Namun, tetap ada beberapa catatan evaluasi terkait kesalahan-kesalahan kecil. Jadikan ini bahan perbaikan agar ke depannya, saat giliran kelas lain bertugas, kualitas upacara kita semakin meningkat," ujarnya.
Beliau juga memberikan instruksi khusus kepada pengurus OSIM (Organisasi Siswa Intra Madrasah) untuk lebih aktif berkontribusi. OSIM diharapkan segera mengagendakan program kerja yang fokus pada pendampingan latihan upacara bagi kelas-kelas yang akan bertugas. Stop Perundungan di Madrasah tema amanat yang diangkat ini menjadi inti amanat, Rischa Cosasi menekankan isu krusial mengenai perundungan (bullying). Beliau mengingatkan bahwa menjaga hati dan perasaan orang lain adalah kunci kenyamanan dalam belajar. Beberapa poin penting yang disampaikan terkait perundungan antara lain:
Jenis Bully Verbal, beliau menyoroti maraknya penggunaan nama-nama ejekan atau perumpamaan buruk yang dapat melukai perasaan. Dampak Psikologis yakni perundungan dapat merusak karakter dan kondisi psikologis korban, termasuk menimbulkan rasa sakit hati hingga trauma berkepanjangan yang mengganggu kesehatan mental. Efek Domino dimana tindakan bully tidak hanya berdampak pada korban dan pelaku, tetapi juga membebani guru wali, teman seperjuangan, orang tua, hingga kepala madrasah. "Madrasah adalah rumah kedua bagi kalian untuk mencapai perkembangan positif. Jangan sampai kewajiban belajar terganggu hanya karena tindakan bully," tegas Rischa.
Menjadi Pelopor Positif, di akhir amanatnya, Rischa mengajak seluruh siswa untuk tidak menjadi penonton (bystander) saat melihat aksi perundungan. Ia meminta siswa untuk berani menjadi pelopor positif dalam memutus rantai perundungan di lingkungan madrasah. "Mari kita bersama-sama menjaga kondusifitas keluarga besar MTsN 5 Merangin. Kita jadikan sekolah madrasah ini sebagai rumah kedua yang paling nyaman dan aman. Semoga dengan rasa simpati dan empati, MTsN 5 Merangin terus lebih baik dan semakin bersinar ke depannya," pungkasnya. (Humas Matslimer Media)
|
76x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Merangin dan Sekitarnya
Memuat tanggal...